
Darussalam, 23 Agustus 2025 — Hari pertama pelaksanaan Ujian Pemetaan Bahasa Inggris Tahun 2025 di Kampus USK Darussalam menjadi momen penting yang membuka banyak pelajaran berharga. Di tengah semangat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pemetaan kompetensi bahasa Inggris secara menyeluruh, sejumlah kendala teknis dan operasional muncul di berbagai titik pelaksanaan. Namun, di balik setiap tantangan, panitia dan tim pelaksana menunjukkan komitmen tinggi untuk segera mencari solusi yang tepat dan berkelanjutan.
Sejak pagi, peserta dari berbagai fakultas dan program studi mulai berdatangan ke lokasi ujian. Antusiasme mereka terlihat jelas, namun sayangnya tidak semua peserta dapat langsung mengikuti ujian dengan lancar. Salah satu kendala utama yang muncul adalah banyaknya peserta yang gagal login ke sistem ujian. Masalah ini terjadi hampir di semua lokasi, dan setelah ditelusuri, penyebab utamanya adalah jaringan internet yang tidak stabil pada saat pelaksanaan. Beberapa peserta harus menunggu cukup lama, bahkan ada yang tidak bisa mengakses soal sama sekali. Menyikapi hal ini, Tim Monev LPM USK mengusulkan kepada panitia pelaksana agar segera merumuskan langkah perbaikan, yaitu memastikan bahwa jaringan internet di semua lokasi ujian harus dalam kondisi stabil dan siap pakai sebelum ujian dimulai. Koordinasi dengan tim teknis dan penyedia jaringan menjadi prioritas agar kejadian serupa tidak terulang.
Selain masalah login, kendala kecil juga terjadi di lokasi RKU 1, di mana sejumlah peserta salah masuk ruang ujian. Ketidaksesuaian antara informasi ruang dan penunjuk arah membuat beberapa peserta kebingungan. Hal ini menimbulkan keterlambatan di awal pelaksanaan. Sebagai solusi, Tim Monev menyarakan ke panitia agar semua ruang ujian harus diberi label atau nomor yang jelas dan mudah diakses oleh peserta. Penataan ulang denah lokasi dan penempatan petugas informasi di titik-titik strategis juga direncanakan untuk hari berikutnya.
Di ruang ICT lantai dua, tantangan lain muncul dalam bentuk komunikasi antara pengawas dan peserta. Karena ukuran ruangan yang cukup besar, pengawas harus mondar-mandir untuk menyampaikan informasi teknis dan instruksi ujian. Hal ini tidak hanya melelahkan bagi pengawas, tetapi juga membuat informasi tidak tersampaikan secara merata dan tepat waktu. Untuk mengatasi hal ini, panitia menyarankan agar ruangan besar difasilitasi dengan mikrofon atau sistem pengeras suara yang memadai. Dengan begitu, pengawas dapat memberikan arahan dengan lebih efisien dan peserta tidak kehilangan informasi penting.
Kenyamanan ruang ujian juga menjadi sorotan. Di Aula FKP, beberapa peserta mengeluhkan kondisi ruangan yang kurang nyaman, baik dari segi pencahayaan, ventilasi, maupun suasana. Sebaliknya, ruang ujian di ICT dinilai sangat nyaman dan kondusif, sehingga menimbulkan disparitas antar peserta. Ketimpangan ini dianggap dapat memengaruhi konsentrasi dan performa peserta selama ujian. Oleh karena itu, panitia menegaskan pentingnya memastikan bahwa semua ruang ujian memberikan kenyamanan yang setara. Observasi dan penilaian awal terhadap kondisi ruang akan menjadi bagian dari prosedur standar sebelum pelaksanaan ujian.
Masalah akses jaringan internet juga kembali muncul di beberapa ruang ujian. Ada ruangan yang sulit mendapatkan sinyal atau koneksi, sehingga peserta tidak dapat mengakses soal dengan lancar. Panitia menyadari bahwa observasi teknis terhadap kondisi jaringan harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan. Tidak cukup hanya mengandalkan asumsi, melainkan perlu ada uji coba dan simulasi untuk memastikan bahwa semua ruang memiliki koneksi yang stabil dan mudah diakses.
Salah satu temuan utama dalam kegiatan monitoring dan evaluasi adalah terkait sistem atau aplikasi ujian yang dinilai masih merugikan peserta. Gangguan jaringan menyebabkan jawaban yang telah diisi tidak terekam oleh sistem, sehingga peserta harus mengulang dari awal. Kondisi ini tidak hanya menyita waktu, tetapi juga menimbulkan tekanan psikologis bagi peserta. Untuk itu, sistem ujian perlu diperbaiki agar dapat merekam jawaban secara otomatis dan berkala. Dengan demikian, apabila terjadi gangguan, peserta tetap dapat melanjutkan ujian tanpa kehilangan progres yang telah dicapai. Perbaikan teknis ini menjadi prioritas utama sebagaimana disampaikan oleh Koordinator Tim Monev, Prof. Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng.
Adapun Tim Monev yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Prof. Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng (Ketua LPM), Dr. Yanis Rinaldi, S.H., M.Hum (Sekretaris LPM), Dr. Ir. Bakhtiar, S.P., M.Si (Kepala Pusat Pengembangan Akreditasi LPM), Dr. Andi Ulfa Tenri Pada, S.Pd., M.Pd (Kepala Pusat Pengembangan Sertifikasi dan Kinerja Pegawai LPM) dan Prof. Dr. drh. Sri Wahyuni, M.Si (Anggota Pusat Pengembangan Akreditasi LPM).
Di sisi lain, ada laporan bahwa paket soal D tidak dapat diakses oleh peserta. Ketidaksesuaian ini menimbulkan ketimpangan dalam distribusi soal dan berpotensi memengaruhi keadilan ujian. Panitia segera mengambil langkah untuk memastikan bahwa semua paket soal dapat diakses dengan baik oleh seluruh peserta. Validasi sistem dan uji coba akses soal akan dilakukan secara menyeluruh sebelum pelaksanaan hari berikutnya.
Yang tak kalah penting adalah evaluasi terhadap kualitas pelaksanaan ujian secara keseluruhan. Banyak pihak menilai bahwa pelaksanaan ujian pemetaan Bahasa Inggris ini masih jauh di bawah standar CBT UTBK yang telah digunakan oleh Universitas Syiah Kuala (USK). Dari segi sistem, alur pelaksanaan, hingga kenyamanan peserta, masih banyak aspek yang perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, disarankan agar sistem ujian pemetaan Bahasa Inggris ke depan menggunakan sistem CBT UTBK yang sudah teruji dan stabil. Selain itu, koordinasi antara DPP dan tim ICT perlu diperkuat agar pelaksanaan ujian berjalan lebih profesional dan terintegrasi.
Meski hari pertama ujian diwarnai berbagai tantangan, semangat untuk memperbaiki dan menyempurnakan pelaksanaan tetap menyala. Evaluasi yang dilakukan secara cepat dan terbuka menunjukkan komitmen panitia untuk menjadikan ujian ini sebagai proses yang adil, nyaman, dan berkualitas bagi semua peserta. Setiap temuan dijadikan bahan refleksi, dan setiap solusi dirancang dengan pendekatan yang realistis dan berorientasi pada perbaikan sistemik.
Ujian Pemetaan Bahasa Inggris bukan sekadar proses teknis, tetapi juga cerminan dari kesiapan institusi dalam menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu. Dengan semangat evaluasi dan perbaikan berkelanjutan, pelaksanaan di hari-hari berikutnya diharapkan akan berjalan lebih lancar, efisien, dan memberikan pengalaman yang positif bagi seluruh peserta. (YR)
Comments are closed